KATA PENGANTAR
Puji serta syukur saya panjatkan atas kehadiran Allah.SWT.
yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya,sehingga saya dapat menyalesaikan
makalah ini. Shalawat dan salam saya panjatkan atas kehadiran Nabi besar kita
Muhammad.SAW. dan para sahabat serta keluarganya.
Makalah ini saya buat untuk menyelasaikan tugas Ilmu Sosial Budaya
Dasar. Pada pembuataan makalah ini saya mendapat dukungan dari berbagai pihak
yang selalu mendorong yang senantiasa memotifasi saya untuk menyelesaikan
makalah ini. Dalam pembuatan makalah ini saya telah berusaha keras untuk
mencapai hasil yang semaksimal mungkin sesuai dengan yang saya harapkan, agar
tidak terjadi banyak kesalahan dalam pembuatan makalah ini. Namun apa daya
tangan tak sampai, namanya manusia pasti ada kesalahan yang dibuat maka dari
pada itu kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan untuk kemajuan
dimasa yang akan datang.
Oleh karena itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada
orang-orang yang telah mendukung saya selama pembuatan makalah. Terutama kepada
ibu Amaliah Zainal Ridho selaku dosen Ilmu Sosial Budaya Dasar yang telah
membimbing saya. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat berguna
untuk berbagai pihak yang membutuhkannya.
Indralaya, Maret 2013
penyusun
DAFTAR
ISI
kata
Pengantar………………………………………………………………… i
Daftar
Isi………………………………………………………………………. Ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang……………………………………………………………. 1
1.2 Tujuan…………………………………………………………………….. 2
1.3 Permasalahan
……………………………………………………………. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Kebudayaan…………………………………………………. 3
2.2 fungsi
akal budi bagi manusia…………………………………………… 5
2.3 Manusia
sebagai pecinta kebudayaan……………………………………… 7
2.4 Proses
Kebudayaan……………………………………………………….. 10
2.5 Perubahan
Kebudayaan dari local menuju global………………………… 12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………… 19
3.2 Saran
……………………………………………………………………. 19
Daftar
Pustaka………………………………………………………………… 20
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hubungan
manusia dan kebudayaan sangat erat kaitannya satu sama lain, secara bahasa
manusia berasal dari kata “manu” (sansekerta ), “mens” (latin), yang berarti
berpikir, berakal budi atau mahluk yang berakal. Kebudayaan berasal dari kata
budaya yang merupakan bentuk kata majemuk kata budi-daya yang berarti cipta,
karsa, dan rasa. Dalam bahasa sansekerta kebudayaan disebut dengan budhayah
yaitu bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal.
Pada
dasarnya manusia adalah mahluk budaya yang harus membudayakan dirinya, Manusia
sebagai mahluk budaya mampu melepaskan diri dari ikatan dan dorongan nalurinya
serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Kemudian mempelajari
keadaan sekitar dengan pengetahuan yang dimilikinya. Kebudayaan juga
mengajarkan kepada manusia beberapa hal penting dalam kehidupan seperti etika,
sopan dan santun menjadikan ciri khas kebudayaan orang Indonesia.
Kebudayaan
juga dapat mempersatukan lapisan elemen masyarakat yang sebelumnya merenggang
akibat konflik yang berkepanjangan dan dapat pula dijadikan alat komunikasi
antar masyarakat. Rasa saling menghormati dan menghargai akan tumbuh apabila
antar sesama manusia menjujung tinggi kebudayaan sebagai alat pemersatu
kehidupan. Alat komunikasi antar sesama dan sebagai ciri khas suatu kelompok
masyarakat.
Banyak hal dapat di kaji mengenai
manusia dan kebudayaan, dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat tentang
hubungan erat manusia dan kebudayaan yang sebenarnya tak dapat dipisahkan satu
sama lain. Kebudayaan berperan penting bagi kehidupan manusia dan menjadi alat
untuk bersosialisasi dengan manusia yang lain dan pada akhirnya menjadi ciri
khas suatu kelompok manusia.
Hubungan manusia dan kebudayaan
sangat erat kaitannya kerana kebudayaan merupakan alat untuk bersosialisasi
antara manusia dengan manusia lain agar terjadi interaksi satu sama lainnya.
Dalam hidup manusia pasti membutuhkan orang lain untuk melangsungkan hidupnya
baik yang secara langsung maupun yang tidak langsung karena manusia merupakan
mahluk yang memiliki jiwa sosial.
Sekaya apapun seorang manusia pasti
akan membutuhkan manusia lainnya yang disebabkan karena suatu hal yang tidak
bisa ia kerjakan atau ia bisa melakukannya namun ia tidak memiliki waktu untuk
mengerjakannya. Hal inilah yang menyebabkan seseorang berinteraksi dengan orang
lain, sehingga terjadi suatu kebudayaan.
1.2 Tujuan
1. Memiliki pengetahuan dan kepedulian
terhadap kebudayaan.
2. Kebudayaan merupakan identitas
manusia dengan manusia lain.
3. Dapat beradaptasi dengan kebudayaan
dilingkungan sekitar.
4. Alat mempersatukan manusia yang satu
dan lainnya.
1.3 Permasalahan
1. Kurangnya pengetahuan tentang
pengertian dari kebudayaan
2. Mengetahui fungsi akal budi bagi
manusia
3. Memberikan wawasan tentang manusia
sebagai cinta kebudayaan
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Kebudayaan
Asal
Kata Budaya berasal dari bahasa sangkerta bhud yang artinya “budi”. Budaya itu
sendiri berarti “hasil budi daya cipta manusia”. Dalam bahasa latin, budaya disebut
“colore”. Disisi lain secara harfiah
colore berarti suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengolah serta mengembangkan
lahan pertanian. Sehingga definisi dari kebudayaan adalah “keseluruhan ide,
tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang
dimiliki manusia itu sendiri dengan cara belajar mengenai kelakuan dan hasil
dari kelakuan itu”.
Kebudayaan selalu dimiliki oleh
setiap masyarakat, hanya saja ada suatu masyarakat yang lebih baik perkembangan
kebudayaannya dari pada masyarakat lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan
masyarakatnya. Pengertian kebudayaan banyak sekali dikemukakan oleh para ahli.
Salah satunya dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, yang
merumuskan bahwa kebudayaan adalah semua hasil dari karya, rasa dan
cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan
kebendaan, yang diperlukan manusia untuk menguasa alam sekitarnya, agar
kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk kepentingan masyarakat.
Rasa
yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segala norma dan nilai masyarakat yang
perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasarakatan alam arti luas.,
didalamnya termasuk, agama, ideology, kebatinan, kenesenian dan semua unsur
yang merupakan hasil ekspresi dari jiwa manusia. Yang hidup sebagai anggota
masyarakat. Selanjtunya cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan pikir dari
orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta
ilmu pengetahuan.
Rasa dan cipta dinamakan kebudayaan
rohaniah. Semua karya, rasa dan cipta dikuasai oleh karsa dari orang-orang yang
menentukan kegunaannya, agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar, bahkan
seluruh masyarakat. Dari pengetian tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan itu
merupakan keseluruhan dari pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial, yang
digunakan untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi,
untuk memenuhi segala kebutuhannya serta mendorong terwujudnya kelakuan manusia
itu sendiri. Perubahan kebudayaan pada dasarnya tidak lain dari para perubahan
manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan itu.
Perubahan itu terjadi karena manusia
mengadakan hubungan dengan manusia lainnya, atau karena hubungan antara
kelompok manusia dalam masyarakat. Tidak ada kebudayaan yanga statis, setiap
perubahan kebudayaan mempunyai dinamika, mengalami perubahan; perubahan itu
akibat dari perubahan masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tersebut.
Ada beberapa definisi tentang
kebudayaan yang telah di fikirkan oleh sarjana-sarjana sosial budaya di seluruh
dunia. Dua orang Antropologi yang terkemuka yaitu Melville.J.Herkovits dan
Bronislaw Malinowski, mengemukakan bahwa kultural determinism yang berarti
segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan oleh adanya
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Herkovits memandang kebudayaan
sebagai super organik, karena kebudayaan yang turun-temurun dari generasi ke
generasi hidup terus.
Kemudian seorang antropolog yaitu:
E.B.Taylor pada tahun 1871 mendefinisikan bahwa kebudayaan sebagai kompleks
yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat,
dan kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang di dapatkan manusia sebagai
anggota masyarakat. Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat
erat, bagaimana yang diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia menjadi
manusia merupakan kebudayaan. Hampir semua tindakan manusia itu adalah kebudayaan.
Hanya saja tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan,
tetapi tindakan demikian persentasenya sangat kecil. Tindakan yang berupa
kebudayaan tersebut di biasakan dengan cara belajar. Terdapat beberapa proses
belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi, sosialisasi dan kulturasi.
2.2 Fungsi
akal dan budi bagi manusia
Akal adalah kemampuan pikir manusia
sebagai kodrat alami yang dimiliki manusia. Berpikir adalah perbuatan
operasional yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan
hidup manusia. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa fungsi akal adalah untuk
berfikir. Kemampuan berfikir manusia mempunyai fungsi mengingat kembali apa
yang telah diketahui sebagai tugas dasarnya untuk memecahkan masalah dan akhirnya
membentuk tingkah laku.
Budi adalah akal yang
merupakan unsur rohani dalam kebudayaan. Budi diartikan sebagai batin manusia,
panduan akal dan perasaan yang dapat menimbang baik buruk segala sesuatu. Jadi
jelas bahwa fungsi akal dan budi manusia adalah menunjukkan martabat manusia
dan kemanusiaan sebagai pemegang amanah makhluk tertinggi di alam raya ini.
Kegiatan-kegiatan
yang dipelajari itu merupakan salah satu bagian dari kebudayaan masyarakat
secara keseluruhan. Didalamnya juga termasuk artefak dan berbagai kontruksi
proporsi kompleks yang terekspresikan dalam system symbol yang kemudian
terhimpun dalam bahasa. Melalui symbol-simbol itulah tercipta keragaman entitas
yang sangat kaya yang kemudian disebut sebagai obyek konstruksi cultural
sepoerti uang, system kenegaran, pernikahan, permainan, hukum, dan sebagainya,
yang keberadaannya sangat ditentukan oleh kepatuhan terhadap system aturan yang
membentuknya.
System
gagasan dan simbolik warisan sosial itu sangatlah penting karena
kegiatan-kegiatan adaptif manusia sedemikian kompleks dan beragam sehingga
mereka tidak bisa mempelajari semuanya sendiri sejak awal. Serta manusia juga
memiliki kemampuan daya sebagai berikut :
·
Akal, intelegensia dan intuisi
Dengan kadar
intelegensia yang dimiliki manusia mampu belajar sehingga menjadi cerdas,
memiliki pengetahuan dan mampu menciptakan teknologi. Intuisi menurut Supartono
sering setengah disadari, tanpa diikuti proses berfikir cermat, namun bisa
menuntun pada suatu keyakinan.
·
Perasaan dan emosi
Perasaan adalah
kemampuan psikis yang dimiliki seseorang, baik yang berasal dari rangsangan di
dalam atau diluar dirinya. Emosi adalah rasa hati, sering berbentuk perasaan
yang kuat, yang dapat menguasai seseorang, tetapi tidak berlangsung lama.
·
Kemauan
Kemauan adalah
keinginan, kehendak untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Kemauan dalam
arti positif adalah dorongan kehendak yang terarah pada tujuan hidup yang
dikendalikan oleh akal budi.
·
Fantasi
Fantasi adalah paduan
unsur pemikiran dan perasaan yang ada pada manusia untuk menciptakan kreasi
baru yang dapat dinikmati.
·
Perilaku
Perilaku adalah tabiat
atau kelakuan, merupakan jati diri seseorang yang berasal dari lahir sebagai
factor keturunan yang kemudian diwarnai oleh factor lingkungannya.
Ada
hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk
manusia, namun manusia sendiri adalah produk kebudayaan. Peter L Berger menyebutnya sebagai
dialektika fundamental yang terdiri dari tiga tahap yaitu :
·
Tahap eksternalisasi,
yaitu proses pencurahan diri manusia secara terus menerus kedalam dunia melalui
aktifitas fisik dan mental.
·
Tahap obyektifitas,
yaitu tahap aktifitas manusia menghasilkan realita obyektif, yang berada diluar
diri manusia.
·
Tahap internalisasi,
yaitu tahap dimana realitas obyektif hasil ciptaan manusia dicerap oleh manusia
kembali.
Kadar
akal dan budi manusia berbeda-beda satu dengan lainnya, demikian pula
masyarakat serta suku bangsa yang satu dg yang lainnya. Sebagai makhluk budaya,
manusia berkemampuan untuk menciptakan kebaikan, kebenaran, dan keadilan serta
tanggung jawab. Hal yang demikian adalah manusia yg mampu
berpikir dan dengan pikirannya itu manusia menciptakan nilai yang ditujukan utk
meningkatkan harkat dan martabat manusia.
2.3
Manusia sebagai pecinta kebudayaan
Budaya tercipta atau terwujud
merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan segala isi yang ada di
alam raya ini. Manusia di ciptakan oleh tuhan dengan dibekali oleh akal pikiran
sehingga mampu untuk berkarya di muka bumi ini dan secara hakikatnya menjadi
khalifah di muka bumi ini. Disamping itu manusia juga memiliki akal,
intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan, fantasi dan perilaku. Dengan
semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka manusia bisa menciptakan
kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan
adalah produk manusia.
Namun manusia itu sendiri adalah
produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang
menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya.
Kebudayaan akan terus hidup mana kala ada manusia sebagai pendukungnya.
Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia. Hasil karya
manusia menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi
manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai
1. Suatu hubungan pedoman antarmanusia
atau kelompoknya.
2. Wadah untuk menyalurkan
perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain.
3. Sebagai pembimbing kehidupan dan
penghidupan manusia.
4. Pembeda manusia dan binatang.
5. Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana
manusia harus bertindak dan berprilaku didalam pergaulan.
6. Pengatur agar manusia dapat mengerti
bagaimana seharusnya bertindak, berbuat dan menentukan sikapnya jika
berhubungan dengan orang lain.
7. Sebagai modal dasar pembangunan.
Terciptanya
sebuah kebudayaan bukan hanya dari buah pikir dan budi manusia, tetapi juga
dikarenakan adanya interaksi antara manusia dengan alam sekitarnya. Bahkan
dalam agama, dikatakan manusia sebagai khalifah atau pemimpin di bumi ini. Maka
ia pun dianugerahi daya cipta, rasa dan karsa yang luar biasa dari Sang Maha
Pencipta.
Sebuah
dialektika terjadi disini, sebab kebudayaan itu ada karena diciptakan oleh
manusia, dan manusia hidup di antara kebudayaan yang diciptakannya sendiri.
Oleh karenanya kebudayaan akan terus ada jika manusia pun ada. Definisi Sosial
Budaya pun dapat berkembang dan tercipta karena adanya kaitan erat antara
kebudayaan dan sosial itu sendiri. Perubahan kebudayaan bisa saja terjadi
akibat adanya perubahan sosial dalam masyarakat, begitu pula hal yang
sebaliknya pun dapat terjadi. Peran dan Dampak Negatif Sosial Budaya Kita pun
perlu mengetahui peran dan dampak negaif untuk lebih memahami definisi sosial
budaya. Jadi, kebudayaan pun memiliki peran dalam kehidupan sosial manusia,
diantaranya adalah:
1. Sebagai
pedoman dalam hubungan antara manusia dengan komunitas atau kelompoknya.
2. Sebagai
simbol pembeda antara manusia dengan binatang. Sebagai petunjuk atau tata cara
tentang bagaimana manusia harus berperilaku dalam kehidupan sosialnya.
3. Sebagai
modal dan dasar dalam pembangunan kehidupan manusia.
Tidak berarti pula penciptaan sosial
budaya itu kemudian tak memiliki dampak negatif. Bila kebudayaan yang ada
kemudian menimbulkan ekses negatif bagi kehidupan sosial adalah sesuatu yang
perlu dipikirkan ulang, jika ingin menciptakan sebuah budaya. Beberapa dampak
negatif kebudayaan bagi kehidupan sosial manusia, antara lain:
1. Menimbulkan
kerusakan lingkungan dan kelangsungan ekosistem alam.
2. Mengakibatkan
adanya kesenjangan sosial yang kemudian menjadi penyebab munculnya
penyakit-penyakit sosial, termasuknya tingginya tingkat kriminalitas.
3. Mengurangi
bahkan dapat menghilangkan ikatan batin dan moral yang biasanya dekat dalam hubungan
sosial antar masyarakat.
Dengan semua kemampuan
yang dimiliki oleh manusia maka manusia mampu menciptakan suatu kebudayaan. Ada
hubungan antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun
manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada
karena manusialah yang menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah
kebudayaan yang telah diciptakannya. Kebudayaan akan terus berjalan manakala
ada manusia sebagai pendudukungnya.
2.4 Proses kebudayaan
Ketika lahir lewat rahim ibu kita
masing-masing, kita semua diperlakukan atau dirawat oleh ‘perawat bayi’
sebagaimana lazimnya dipanggil sebagai suster yang ada di rumah sakit, atau
dukun beranak yang ada di kampung sekalipun. Ketika indera mata dan fungsi
pendengaran mulai bekerja (melek dan bisa mendengar suara) disaat-saat seperti
itulah proses kebudayaan seorang anak manusia dimulai , agar belajar merespons
situasi hingga akhirnya tak merasa asing serta mampu mengenali lingkungan
disekelilingnya.
Fase awal-awal belajar berkomunikasi
lewat ‘satu dua patah kata’ adalah proses pematangan bagi otak dan akal , yang
meng-isyaratkan kesiapan menerima pelajaran bagi bekal terbentuknya sifat
Kebudayaan seorang anak manusia itu sendiri. Disana seorang ibu dan ayah akan
mengajarkan pada anak tersebut perilaku demi perilaku yang telah secara turun
menurun diajarkan oleh para pendahulunya masing-masing. Hal tersebut yang
kemudian kita kenal dengan kata ‘budaya’ . (perilaku yang dilandasi oleh etika
yang diwajibkan saat itu).
Disaat seorang anak manusia kemudian
mampu berkomunikasi dengan baik kepada kedua orang tuanya , telah terbiasa
dengan segala perilaku dan aturan yang diajarkan disetiap harinya (dari pagi
hingga malam) menjalani proses bagaimana harus bersikap menghadapi kewajiban
demi kewajiban di pagi hari atau disiang hari dan dimalam hari , maka itulah
yang disebut sebagai Kebudayaan dalam sebuah keluarga.
Kebudayaan sebuah keluarga yang akan
mencerminkan perilaku atau budaya masing-masing anggota keluarga tersebut. Demikian
pula yang terjadi , ketika disebelah rumah kita terdapat keluarga lain yang
disebut sebagai tetangga , merekapun melakukan proses kebudayaan seperti proses
yang terjadi dalam keluarga kita sendiri. Perintah kehidupan agar setiap
makhluk di dunia harus saling menopang dan memberi , yang juga merupakan
perintah semua Agama yang mengajarkan agar manusia mengenali Penciptanya ,
Tuhan Yang Maha Esa. serta harus juga tunduk taat kepada setiap ajaran dan
menghindari segala larangan-NYA , membuat makhluk yang namanya manusia
mengenali arti toleransi dan hak serta kewajibannya masing-masing. Tahapan ini
bisa kita sebut sebagai Kebudayaan satu lingkungan seperti layaknya RT maupun
RW.
Demikian seterusnya proses kebudayaan
tersebut berkembang berlipat ganda, hingga melebar dan meluas melibatkan
berbagai elemen-elemen kebudayaan setiap keluarga dalam jumlah yang lebih
banyak , sampai akhirnya masuk pada tahap bisa disebut sebagai KEBUDAYAAN satu
SUKU BANGSA / ras. Jelas , bahwa yang disebut dan bisa dikatakan sebagai
Kebudayaan satu suku bangsa diatas , memiliki cara bagi penyelenggaraan aturan
dan hukum sesuai dengan kesepakatan dan toleransi yang telah mereka capai
secara bersama-sama.
Masing-masing diantara mereka semua, ada
yang disebut sebagai Kebudayaan Jawa, Bali, Batak, Sumatra Selatan, Ambon, Bugis
dan banyak lagi lainnya yang menghuni disetiap sudut jajaran kepulauan
Nusantara. Penggambaran diatas , merujuk kita untuk mulai memasuki wilayah yang
jauh lebih kompleks . Yaitu bagaimana proses interaksi antara masing-masing Suku
Bangsa diatas hingga mereka semua mau bersanding secara damai untuk hidup
bersama , dengan kesepakatan bersama untuk tidak saling merugikan masing-masing
pihak diantaranya.
Namun justru membangun suasana gotong-royong yang
akhirnya di wacanakan , agar bisa bisebut BHINEKA TUNGGAL IKA. Secara singkat
dan dengan pendekatan istilah serta bahasa yang sederhana , begitulah
seharusnya kita memahami dan mengenali arti kalimat KEBUDAYAAN bagi Indonesia
yang di cita-citakan oleh para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kebudayaan
adalah value / nilai – Budaya adalah perilaku yang terus bergerak . Kebudayaan
yang baik akan melahirkan perilaku terhormat dan bermartabat serta ber-etika .
Kebudayaan yang ‘rusak’ akan mencerminkan budaya / perilaku manusianya yang tak
menghormati adab , penuh sesak oleh watak dan sifat-sifat keburukan .
Kita mengenal masing-masing Kebudayaan di jajaran nusantara ini dengan
berbagai falsafah hidup yang tinggi serta mulia . Namun sudahkah kita menemukan
kesepakatan lalu taat kepada segala aturan yang bisa dijadikan acuan agar
berperilaku sesuai budaya “KEBUDAYAAN INDONESIA”. Bila masing-masing Kebudayaan
(suku2 bangsa) yang ada di jajaran Nusantara ini tunduk taat serta berlindung
dibalik hukum dan aturan adat-nya sendiri-sendiri.
Sudahkah fungsi dan segala aturan hukum-hukum adat tersebut tertuang dan
ter-akomodasi kepentingannya didalam HUKUM NEGARA. Menjadi sebuah kewajaran
yang bisa dicerna oleh akal sehat siapa saja , mengapa Bangsa Indonesia
kesulitan menghadapi gesekan dan benturan yang terjadi ditengah masyarakatnya
sendiri . Strategi Kebudayaan Indonesia … disanalah jawaban yang harus
dirumuskan secara bersama dengan tuntas.
2.5
Perubahan kebudayaan dari lokal menuju global
Tak
dapat dipungkiri bahwa faktor kemajuan peradaban dunia sebagai indikasi
kemajuan berfikir umat manusia, tak salah apabila disebut bahwa umat
manusia dewasa ini telah diperhadapkan pada situasi yang serba maju,
instant dan pola pemikiran yang kritis. Kemajuan peradaban itu banyak mengakibatkan
perubahan di segala aspek kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bernegara
maupun berbangsa.
Banyak
di antara masyarakat itu menerima perubahan peradaban itu sebagai sesuatu yang
lumrah sebagai sebuah proses yang harus dijalani, dimaklumi dan kehadirannya
senantiasa menimbulkan berbagai perubahan dalam praktiknya. Sehingga memaksa
masyarakat budaya, mau tak mau atau sadar atau tidak sadar diperhadapkan pada
situasi yang sulit antara menerima perubahan perdaban itu (karena tidak ingin
dianggap kolot) atau menolak perubahan itu kendatipun dianggap primitif,
konvensional dan ortodoks.
Perselisihan
atau tepatnya perbedaan pemikiran seperti itu dapat muncul sebagai reaksi
terhadap berbagai tindakan yang bagi sebagian orang bergerak seolah-olah
meninggalkan kebudayaannya sedang sebagian orang ingin mempertahankannya
sebagai sebuah warisan leluhur bersama (common heritage) yang wajib dijaga dan
dilestarikan. Fenomena berikutnya adalah diakibatkan oleh mobilitas tanpa
limit, dimana manusia tidak lagi dapat begitu saja dihempang dalam
mobilitasnya.
Katakan
saja, andai seseorang ingin bepergian ke tempat lain (negara Lain) maka tak
seorangpun yang dapat menghempangnya apabila ia telah menetapkan bahwa ia harus
berangkat. Keadaan ini juga mengakibatkan adanya perpaduan (assimilation) di
tempat baru dimana ia berpijak, sehingga melahirkan penilaian apa yang
diperoleh, diidolakan sebelumnya dengan dimana ia tinggal dan lihat.
Penilaian
itu dapat saja memicu lahirnya interpretasi bahwa apa yang melekat pada dirinya
ketika memutuskan untuk bepergian itu dinilai sebagai sesuatu yang kolot,
tradisional dan tertinggal. Ia kemudian mengenakan berbagai atribut yang
dianggap sebagai simbolisasi budaya maju seperti kritis, egoisme, dan
materialistis. Kondisi lain adalah meningkatnya mobilitas sekolah antara negara
dimana juga telah mempengaruhi pengakuan terhadap budaya lokalnya.
Keadaan
dimana sipelaku diperhadapkan pada situasi dan alternatif yang kritis seperti
itu telah menciptakan adanya anggapan bahwa budaya (lokal) tidak mampu
menyaingi budaya (global) yang sedang mendunia. Namun demikian, bagi sebahagian
orang tidak demikilan, bahwa budaya lokal senantiasa akan bertahan
(lestari) apabila sipelaku tidak membiarkan budaya (lokal)-nya itu tidak
tertindas, tidak tradisional dan tidak terbelakang apabila terdapat upaya
sipelaku memajukan atau melakukan perubahan (innovation) dan penerapan
(invention) terhadap apa yang disebut dengan budaya lokalnya itu. P
Perubahan social tak dapat disangsikan
bahwa kemajuan pemikiran manusia yang senantiasa berupaya untuk menghasilkan
hal-hal baru dalam hidupnya adalah hal wajar yang dilakukan sebagai
makhluk yang berakal. Berangkat dari asumsi bahwa pemikiran manusia akan
senantiasa merubah kondisi sosial, maka hal yang demikian itu dapat diterima
secara mutlak.
Pada
dasarnya perubahan itu dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup,
peradaban (civilzation) dan kesempurnaan hidupnya yang meskipun pada dasarnya
akan senantiasa juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi peradaban itu sendiri.
Katakanlah, kebiasaan manusia mengkonsumsi (membeli) makanan yang serba
instant, tanpa ada upaya untuk membuatnya, akan melemahkan dan memandulkan
kreativitas. Belum lagi hal yang serupa itu diterima dan meresap pada diri
anak-anak, maka seumur hidupnya akan menjadi pengkonsumsi utama tanpa adanya
niat untuk mencoba membuatnya dengan keinginan sendiri. Alhasil, generasi yang
muncul berikutnya adalah generasi yang nirkreativitas.
Perubahan
sosial, baik yang direncanakan maupun yang tidak dapat dikategorikan ke dalam
hal di atas yang pada intinya adalah pengupayaan ke arah yang lebih baik dengan
mencoba mereduksi dampak negatif dari social change itu. Siklusnya dapat
dicerna melalui adanya rekayasa sosial (social engineering), rekontruksi sosial
(social recontruction).
Pada
tahap ini akan muncul sikap menerima (receive) ataupun berupaya menolaknya
(defence). Kemudian, dalam upaya menghindari bentrok budaya (paling tidak dalam
paradigma) pemikiran) maka pada saat itu dibutuhkan agen-agen perubahan (social
agent) sebagai media penyampai agenda perubahan itu. Apabila, perubahan itu
muncul sebagai yang tidak direncanakan, maka peran itu akan digantikan oleh
sosok atau figur yang dapat menjembatani perubahan yang sedang terjadi.
Dengan
begitu, perubahan yang sedang terjadi dan akan terjadi, maupun yang
direncanakan ataupun tidak (kurang) direncanakan tidak akan mengalami benturan
kebudayaan (peradaban) pada masyarakat kekinian. Justru dengan demikian, yang
tengah terjadi adalah pemerkayaan khasanah kebudayaan dan bukan pergeseran.
Dengan
begitu, hipotesa kebudayaan selanjutnya adalah bahwa tidak akan pernah terjadi
pergeseran kebudayaan apalagi upaya meninggalkan budaya lokal itu yang meskipun
pada tataran performa seolah-olah kebudayaan itu telah bergeser atau ditinggalkan.
Perubahan yang demikian itu justru harus dimaknai sebagai upaya pemberdayaan
dan pemerkayaan kebudayaan itu sendiri sebagai system makna (system of
meaning).
Trand global suatu hal yang tak
dapat dielak dan dipungkiri bahwa pola kehidupan manusia pada saat ini adalah
bahwa manusia kini diperhadapkan pada situasi yang ambigu. Menolak dan menerima
perubahan sosial sebagai dampak kemajuan. Opsi untuk menolak dihantui oleh
resistensi dari dalam diri pribadi dan lingkungan yang secara phisikologis akan
turut mempengaruhi penolakan itu. Yaitu adanya ketakutan terhadap anggapan
sebagai person yang primitif, tradisional dan konvensional. Sementara untuk
menerima perubahan itu juga menimbulkan benturan psikologis dimana seseorang
pelaku itu dicap sebagai orang yang kurang (tidak) menghargai kebudayaannya.
Sirkumstansi
yang demikian itu adalah opsi yang begitu sulit untuk dapat diterima, paroksi
psikologis menjadi hambatan utama antara opsi menerima dan menolak. Akan
tetapi, kecenderungan yang terjadi adalah bahwa perubahan itu adalah
suatu hal yang tidak mungkin dapat dibatasi apalagi dihempang. Justru,
kepiawaian kita dalam menerjemahkan perubahan itu ke dalam diri kita sendiri,
meresap dalam diri kita, kemudian akan memancarkan aura perubahan terhadap sikap
dan prilaku kita. Dengan begitu, apakah hal yang demikian itu juga disebut
telah merubah kebudayaan? Tentu jawabnya adalah tidak. Perubahan yang terjadi
dewasa ini adalah kewajiban yang harus diterima, dan oleh sebab itu maka yang
terjadi di seputar perubahan itu adalah trend ataupun kecenderungan yang
senantiasa dimaknai.
Tantangan
yang justru dihadapi adalah sampai seberapa jauh kita mampu memadukan perubahan
dengan kebudayaan itu? Namun demikian, maksud utamanya adalah bukan dengan
menolak kebudayaan global yang sedang mendunia. Di sini dibutuhkan pemahaman
dan pengertian kita untuk menerjemahkan perubahan itu sehingga tidak
menimbulkan distorsi bagi kepribadian dan kebudayaan yang menggejala.
Kekuatannya justru terletak pada diri kita sendiri bahwa apa yang akan kita
ambil dan maknai dari perubahan itu, dan seberapa mampukah kita
menerjemahkannya ke dalam kebudayaan kita.
Apakah
seorang Batak yang modern adalah orang yang tidak (lagi) menggunakan budaya
Batak itu dalam kehidupannya sehari-hari? Apakah orang Batak akan dikenal
sebagai orang yang tidak maju apabila atribut Habatahon masih menempel pada
dirinya? Lantas bagaimana pula kebudayaan yang lahir akibat perpaduan dua unsur
budaya suku yang berbeda akibat adanya kawin campur, misalnya orang Simalungun
dengan Jawa? Keutamaan dari pola seperti ini adalah adanya pemerkayaan budaya
lokal itu sendiri yakni pencapaian ke arah peradaban yang lebih sempurna.
Anggapan
itu dapat dimaknai sebagai dampak perubahan terutama dalam menghargai waktu,
benda dan segala bentuk ragam unsur budaya. Atribut-atribut budaya lokal
seolah-olah terancam akibat budaya global seperti masuknya berbagai komoditas
global, pengaruh dan tindakan yang dipancarluaskan oleh berbagai media
penyampai seperti TV dan media cetak lainnya. Akibatnya kita akan lebih
menghargai semua itu dengan waktu dan dengan adanya tuntutan tugas yang mesti
dilakukan. Keadaan ini justru akan merubah kita yang tanpa disengaja telah
melahirkan berbagai interpretasi atas diri dan prilaku kita.
Dalam
pada itu, situasi dan kondisi dimana budaya lokal akan dipertaruhkan di tengah
kancah kebudayaan global, sepertinya melahirkan kontroversi dan paradigma yang
berbeda dalam memandang budaya global itu. Sebahagian tidak menginginkan adanya
perubahan dalam kelokalan budayanya dan tanpa disadari tindakan yang dilakukan
telah merubah keaslian kebudayaan itu. Justru dengan begitu, kita dapat
memaknai bahwa perubahan itu akan senantiasa terjadi dan tanpa kita sadari akan
meresapi diri kita dan masuk ke dalam pola perilaku dan tindakan kita. Oleh
karenanya, kebudayaan akan semakin mantap, bertahan dan lestari.
Pertanyaan
terakhir adalah menyangkut kita sebagai pemuja kebudayaan (idols of culture)
kita. Adakah kita berupaya memajukan kebudayaan kita itu, atau malah membiarkan
budaya kita itu terlindas oleh budaya global? Dan sampai sejauh manakah
pengakuan kita terhadap kebudayaan kita itu? Oleh karenanya, penting dilakukan
kembali kaji ulang terhadap kepribadian kita yakni bukan secara langsung
melontarkan bahwa kebudayaan kita itu adalah tidak maju, tidak modern dan
miskin dan terbelakang. Jika demikian yang terjadi maka kebudayaan kita itu
akan mengalami pendangkalan makna akibat erosi pemerkayaan dan pemajuan budaya
lokal itu.
Perubahan budaya dalam globalisasi yaitu
kesenian yang bertahan dan yang tersisih Perubahan
budaya yang terjadi di dalam masyarakat tradisional, yakni perubahan dari
masyarakat tertutup menjadi masyarakat yang lebih terbuka, dari nilai-nilai
yang bersifat homogen menuju pluralisme nilai dan norma social merupakan salh
satu dampak dari adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah
mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan sarana transportasi
internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa.
Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan
menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh. Misalnya
saja khusus dalam bidang hiburan massa atau hiburan yang bersifat masal,
makna globalisasi itu sudah sedemikian terasa. Sekarang ini setiap hari kita
bisa menyimak tayangan film di tv yang bermuara dari negara-negara maju seperti
Amerika Serikat, Jepang, Korea, dll melalui stasiun televisi di tanah air.
Belum lagi siaran tv internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang
kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Sementara itu,
kesenian-kesenian populer lain yang tersaji melalui kaset, vcd, dan dvd yang
berasal dari manca negara pun makin marak kehadirannya di tengah-tengah kita.
Fakta yang demikian memberikan bukti tentang betapa negara-negara penguasa
teknologi mutakhir telah berhasil memegang kendali dalam globalisasi budaya
khususnya di negara ke tiga.
Peristiwa transkultural seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh
terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan
bagian dari khasanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya. Di
saat yang lain dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat
ini, kita disuguhi oleh banyak alternatif tawaran hiburan dan informasi yang
lebih beragam, yang mungkin lebih menarik jika dibandingkan dengan kesenian
tradisional kita. Dengan parabola masyarakat bisa menyaksikan berbagai tayangan
hiburan yang bersifat mendunia yang berasal dari berbagai belahan bumi.
Kondisi yang demikian mau tidak mau membuat semakin tersisihnya
kesenian tradisional Indonesia dari kehidupan masyarakat Indonesia yang sarat
akan pemaknaan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya saja bentuk-bentuk ekspresi
kesenian etnis Indonesia, baik yang rakyat maupun istana, selalu berkaitan erat
dengan perilaku ritual masyarakat pertanian. Dengan datangnya perubahan sosial
yang hadir sebagai akibat proses industrialisasi dan sistem ekonomi pasar, dan
globalisasi informasi, maka kesenian kita pun mulai bergeser ke arah kesenian
yang berdimensi komersial. Kesenian-kesenian yang bersifat ritual mulai
tersingkir dan kehilangan fungsinya. Sekalipun demikian, bukan berarti semua
kesenian tradisional kita lenyap begitu saja. Ada berbagai kesenian yang masih
menunjukkan eksistensinya, bahkan secara kreatif terus berkembang tanpa harus
tertindas proses modernisasi.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Berdasarkan
dari uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu antara lain :
1.
Asal Kata Budaya berasal dari bahasa
sangkerta bhud yang artinya “budi”. Budaya itu sendiri berarti “hasil budi daya
cipta manusia”.
2.
Ada
beberapa definisi tentang kebudayaan yang telah di fikirkan oleh
sarjana-sarjana sosial budaya di seluruh dunia. Dua orang Antropologi yang
terkemuka yaitu Melville.J.Herkovits dan Bronislaw Malinowski,
3.
Akal
adalah kemampuan pikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki manusia.
Berpikir adalah perbuatan operasional yang mendorong untuk aktif berbuat demi
kepentingan dan peningkatan hidup manusia
4.
Budaya
tercipta atau terwujud merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan
segala isi yang ada di alam raya ini.
5.
Fase awal-awal belajar berkomunikasi
lewat ‘satu dua patah kata’ adalah proses pematangan bagi otak dan akal, yang
meng-isyaratkan kesiapan menerima pelajaran bagi bekal terbentuknya sifat
Kebudayaan seorang anak manusia itu sendiri.
6.
Perubahan
budaya dalam globalisasi yaitu kesenian yang bertahan dan yang tersisih.
3.2 Saran
Makalah
yang berjudul manusia dan kebudayaan ini belum sepenuhnya sempurna, namun kami
sudah melakukan yang terbaik. Kepada pembaca kami sangat membutuhkan kritik dan
saran Anda untuk penyempurnaan pembuatan makalah dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
budaya.html
diakses pada tanggal 2 Maret 2013 pukul 15.10 WIB
manusia.html
diakses pada tanggal 2 Maret 2011 pukul 15.25 WIB
Ditya, Ryana. 2011. http://ryanadityaa.blogspot.com/2011/02/manusia-sebagai-
pencipta-dan-pengguna.html
diakses pada tanggal 2 Maret 2013
pukul 16.00 WIB
kebudayaan/. diakses pada tanggal 2
Maret 2013 pukul 14.35 WIB.
Rahaditian. 2012. http://bimbingankonselingcb.blogspot.com/2012/10/fungsi-
akal-budi-manusia.html diakses pada 2 Maret 2013 pukul 15.00 WIB
diakses
pada tanggal 2 Maret 2013 pukul 14.40 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar